Selasa, 28 Oktober 2008

Hakekat Tasawuf

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

1. Landasan Menilai benar tidaknya tasawuf

Kita wajib kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih untuk dapat mengetahui hakikat tasawwuf ini, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika engkau benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagi kamu dan lebih baik akibatnya.”(An-Nisaa’ :59)

Jadi, segala penyimpangan yang akan kita bicarakan tentang tasawwuf ini berdasarkan pertimbangan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman salafus shalih.

Rasulullah SAW bersabda :
Aku tinggalkan kepada kalian suatu perkara yang bila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan menyesatkan kalian selamanya, (yaitu) Kitabulah dan Sunnahku.
(Hadits Shahih riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha (II/1899) dan Imam Hakim dalam Mustadrak I/93) secara bersambung dari Abu Hurairah r.a.)

Pada saya ada dua buku yang mengupas tentang sufi, yang ditulis oleh ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah untuk menerangi aliran ini agar kita kaum muslimin mengetahui siapa sebenarnya sufi/tasawuf itu, sesuaikah dia dengan tuntunan yang AL-Quran dan As-Sunnah ? simaklah ringkasan dari buku :
a. Aliran Sufi dengan timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Sufiyah fi Mizanil Kitab wa Sunnah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
b. Menguak Dunia Tasawuf Tarekat Naqsyabandiyyah (An-Naqsyabandiyyah Ardhu wa Tahlilun, karya Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyah)
Disini saya ringkaskan perkara-perkara yang saya anggap penting diketahui dan mudah dikenali dengan kondisi aliran sufi yang ada di Indonesia ini. Namun kesesatan aliran ini sesungguhnya melebihi dari apa yang saya sampaikan. Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk kepada dua kitab diatas atau kitab lainnya yang ditulis para ulama yang mumpuni dibidang ilmu.

2. Awal munculnya tasawuf / sufi

Pada jaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Islam tidak mengenal aliran tasawwuf, juga pada masa shahabat dan tabi’in (yaitu generasi setelah shahabat yang mereka itu menuntut ilmu dari para shahabat). Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian shuf (pakaian dari bulu domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat julukan sebagai nama bagi mereka yaitu Sufi dengan nama tarekatnya Tasawwuf. (Dari kitab Sufiyyah fi mizanil kitab wa sunnah, karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).

Adapun hanya sekedar pengakuan tanpa adanya dalil yang menerangkan ataupun dari berita-berita dusta yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya ra. adalah juga golongan tasawwuf maka cara berhujjah seperti ini tidaklah dapat diterima oleh orang yang berakal.

3. Aliran Sufiyyah mempunyai banyak tarekat (jalan)

Antara lain : Tijaniyyah, Qadariyyah, Naqsyabandiyyah, Syadzaliyyah, Rifa’iyyah dan lainnya yang semuanya mengaku diatas jalan yang benar dan menganggap jalan yang lain adalah batil/salah.
Padahal Islam telah melarang adanya perpecahan (membuat jalan baru), seperti firman Allah :
“...dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum :31-32)


4. Aliran sufi memeliki sifat fanatisme terhadap syaikh-syaikh mereka

Sekalipun mereka menyelisihi Allah dan Rasul-Nya. Padahal Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat : 1)

Dan rasulullah SAW bersabda :
Tidak ada ketaatan bagi seseorang dalam berbuat maksiat kepada Allah, ketaatan itu hanya dalam berbuat baik. (HR. Bukhari & Muslim)

Namun kebanyakan manusia sekarang ini mengambil apa saja yang dikatakan oleh gurunya tanpa mau memeriksa apakah perkataan gurunya itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau tidak. Dia menelan apa saja yang dikatakan oleh gurunya yang disangkanya gurunya bebas dari kesalahan, maka jika gurunya sesat maka sesat pulalah dia, padahal dia bertanggung jawab terhadap setiap amalan dirinya kelak di hadapan Allah SWT.

Demikianlah yang menimpa ummat-ummat terdahulu, mereka mengikuti saja apa yang dikatakan oleh para guru-guru mereka, tanpa menyesuaikannya dengan Kitab yang telah diturunkan kepada mereka.
Allah berfirman :
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb) al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa. Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At-Taubah : 31)

Saat Rasulullah SAW membaca ayat ini didepan para Shahabatnya, maka berkata seorang Shahabat yang bernama ‘Adiy bin Hatim ; “Sungguh kami tidak menyembah mereka.” Beliau SAW bertanya ;”Tidakkah mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamupun mengharamkannya ? dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah, lalu kamupun menghalalkannya ?”
Aku (‘Adiy)menjawab, “Ya”. Maka beliau bersabda;”Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.”
(Hadits Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dengan sanad Hasan)

Jadi, orang-orang terdahulu tersesat karena mereka mengikuti secara membabi buta guru-guru mereka tanpa menghiraukan apakah yang diserukan oleh guru mereka itu sesuai dengan Kitabullah ataukah tidak, demikian pengalaman ‘Adiy bin Hatim saat belum memeluk Islam.

Persis seperti apa yang dialami oleh sufi tarekat naqsyabandiyyah :
Ia (Syaikh Naqsyaband) pernah diundang oleh sebagian sahabatnya di Bukhara. Ketika hendak menuju Maroko, ia berkata kepada Maula Najmuddin Dadark,
Apakah engkau akan melaksanakan semua yang aku perintahkan kepadamu ?
Ia menjawab : Ya.
Ia berkata :Jika aku memerintahkanmu untuk mencuri, apakah engkau akan melakukannya ?
Ia berkata :Tidak.
Ia berkata :Mengapa ?.
Ia menjawab :Karena hak-hak Allah itu bisa dihapus dengan taubat, sedangkan ini termasuk hak-hak hamba.
Ia berkata :Jika engkau tidak mau melaksanakan perintah kami maka jangan bersahabt dengan kami.
Maula Najmuddin sangat terkejut mendengar hal itu dan bumi yang luas telah terasa sempit olehnya. Dan ia kemudian menampakkan taubat dan penyesalannya serta berketetapan hati untuk tida melanggar perintahnya. Para hadirinpun menaruh rasa kasihan kepadanya dan mereka meminta syafaat dan maaf kepada Syaikh Naqsyaband untuknya. Ia pun memaafkannya. (AL-Mawahibus Sarmadiyyah, 138, Al-Anwarul Qudsiyyah, 140 dan Jamiu Karamatil Auliya, 1/ 150)

Tanggapan :
Ini adalah kebiasaan syaikh-syaikh tasawuf. Mereka biasa melatih murid-muridnya untuk taat buta sekalipun didalamnya terdapat perihal meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan memperingatkan mereka bila bersikap ingkar dan menyanggah. Mereka memiliki jargon yang terkenal : Jangan menyanggah, niscaya engkau akan tersisih.

Padahal Rasulullah SAW telah bersabda :
Tidak ada ketaatan dalam berbuat maksiat, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perbuatan maruf (baik). (HR. Muslim (1840), dan Bukhari 8/106 Kitabul Ahkam dan 8/135 bab Ijazati Khabaril Wahid)

Rasulullah SAW juga bersabda :
Wajib atas seorang muslim untuk patuh dan taat dalam hal-hal yang ia sukai dan hal-hal yang ia benci kecuali jika ia disuruh untuk melakukan maksiat, maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan dalam hal itu. (HR. Muslim (1839) dan Al-Bukhari 8/106 Kitabul Ahkam)

5. Manaqib dan Keramat-keramat tokoh-tokoh sufi

Pengarang kitab Al-Mawahibus Sarmadiyyah Fi Manaqibis Sadatin Naqsyabandiyyah, Syaikh mereka Muhammad Amin Al-Kurdi meriwayatkan dari Syaikh Naqsyabandiyyah bahwasanya ia berkata : Aku bersahabat dengan Ad-Darwisy Khalil. Kemudian ia memerintahkanku untuk mengabdi kepada hewan-hewan. Hingga ketika dijalan aku bertemu dengan seekor anjing, lalu aku berhenti sampai anjing tersebutberlalu terlebih dahulu supaya aku tidak mendahuluinya. Aku terus melakukan hal yang demikian selama tujuh tahun. Kemudian setelah itu ia menyuruh aku untuk mengabdi kepada anjing-anjing milik paduka yang mulia ini dengan sikap jujur dan tunduk dan au meminta pertolongan dari mereka. Syaikhnya berkata : Sesungguhnya engkau akan sampai kepada seekor anjing diantara mereka (anjing-anjing itu) yang dengan mengabdi kepadanya engkau akan memperoleh kebahagiaan yang besar. Aku lalu memanfaatkan nikmat untuk mengabdi ini dan aku tida memperdulikan upaya yang keluar dengan melaksanakannya berdasarkan petunjuknya dan dalam rangka ingin mendapatkan kabar gembira yang dituturkannya. Hingga pada suatu saat aku bertemu dengan seekor anjing. Lalu dengan pertemuan tersebut terjadilah pada diriku suatu keadaan yang luar biasa. Akupun berhenti dihadapnnya dan aku menangis sejadi-jadinya. Pada saat itulah aku merebahkan diri diatas punggungnya dan iapun mengangkat kakinya yang empat kearah langit. Kemudian aku mendengar darinya suara sedih, keluhan dan rintihan. Lalu aku mengangkat kedua tanganku sebagai sikap tawadhu dan aku berkata : Amin hingga ia (anjing itu) diam dan kembali seperti semula.
Kemudian setelah itu ia menyebutkan bahwa ia juga pernah menemukan seekor bunglon. Lalu terbesit dihatinya untuk meminta syafaat darinya. Ia pun segera mengangkat kedua tangannya, lalu ia menjatuhkan dirinya diatas punggungnya dan menghadap kelangit seraya mengucapkan Amin.

Jawaban :
Subhanallah! Apakah pintu-pintu untuk memperoleh syafaat dan pertolongan telah tertutup dari dirinya hingga ia tidak mendapatkan keduanya kecuali dari diri seekor anjing dan bunglon ? Dan siapakah yang mengatakan bahwa anjing itu mengangkat keempat kakinya apabila hendak berdoa ? Jikalau ia meminta pertolongan dan syafaat dari seorang manusia niscaya hal itu tidak boleh, lalu bagaimana pula jika ia meminta keduanya kepada seekor anjing dan bunglon ?

6. Sekelumit Mengenai Keramat-keramat dan Perkataan-perkataan Para Syaikh Tarekat Sufi

Syaikh Muhammad Al-Mashum berkata :Aku melihat kabah yang dimuliakan merangkul dan menciumku dengan kerinduan yang mendalam. Tatkala aku selesai melaksanakan thawaf ziarah, datanglah kepadaku seorang malaikat membawa sebuah kitab tentang diterimanya haji yang au laksanakandari Rabb semesta alam. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 213, Jamiu Karamatil Auliya 1/204 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 196, semuanya kitab-kitab referensi tasawuf aliran Naqsyabandiyyah)

Dinukil darinya bahwa dia telah mampu mengucapkan tauhid, padahal ia beru berumur tiga tahun sehingga ia mengatakan :Akulah bumi, akulah langit. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 202 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 192)

Syaikh Ahmad Al-Furuqi berkata : Diperlihatkan kepadaku Kabah yang disucikan sedang melakukan thawaf diseputar diriku sebagai pemuliaan dan penghormatan dari Allah untuk diriku. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 184 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 182)

Ini adalah sekelumit tentang perkataan-perkataan para Syaikh tarekat sufi, dan masih begitu banyak hal yang senada seperti diatas dari ucapan-ucapan mereka yang didalamnya terdapat penyimpangan-penyimpangan terhadap syariat yang tidak tersembunyi atas seorang pembaca yang bersikap adil dan memiliki akal sehat.

Bahkan saya katakan bahwa hal ini pun telah terjadi dikantor kita, dimana beberapa orang pegawai pernah menceritakan kepada saya tentang perkataan seorang pegawai yang sangat menggeluti pemahaman sufi ini.
Disuatu waktu ia berkata bahwa, dikala ia sedang melaksanakan ibadah haji dan dia berdoa dihadapan kabah, maka dia melihat begitu banyak wanita-wanita yang cantik jelita sedang mengitarinya. Ia berkata bahwa mereka adalah para bidadari yang menampakkan diri pada dirinya.
Dalam kesempatan lain dia pernah berkata bahwadia pernah pergi ke langit ketujuh. Dan dia berkata kepada seorang pegawai kita bahwa apabila ingin melihat padang masyhar maka lakukanlah ini dan itu (ia menyebutkan beberapa amalan yang tidak ada diperintahkan didalam agama ini sebagai syarat untuk mencapai keinginan tersebut). Banyak lagi perkataan-perkataannya yang tidak sepantasnya diucapkan oleh orang yang berakal.

7. Memohon Pertolongan / Istighasah Kepada Para Syaikh Mereka

Diriwayatkan bahwa salah seorang murid Syaikh Muhammad Al-Mashum sedang mengendarai seekor kuda, laul kuda tersebut membuang kotorannya sehingga membuat sang murid terjatuh ke tanah dan kakinya tergantung di tempat pelana kuda. Kemudian kuda tersebut membawanya lari hingga ia berkeyakinan akan binasa. Lau ia meminta pertolongan kepada yang mulia al-qayyum (yaitu Syaikh Muhammad Al-Mashum-disifati dengan sifat yang hanya dimiliki Allah SWT). Sang murid berkata : Lalu aku melihat sang Syaikh datang sambil memberhentikan kuda tersebut serta menaikkanku keatasnya. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 210-213, Jamiu Karamatil Auliya 1/199-200 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 195-196)

Pada suatu hari datang banjir besar melanda desa Maulana Arif, lalu penduduknya takut tenggelam/hanyut. Mereka pun segera meminta pertolongan kepada Syaikh Muhammad Al-Mashum). Maka ia keluar dan duduk ditempat air bah, dan ia berkata kepada air itu :Sesungguhnya jika engkau memiliki kekuatan, maka bawalah aku. Kemudian banjir tersebut berhenti. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 107, Jamiu dan Al-Anwarul Qudsiyyah 125)

Padaha Alah berfirman :
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Alah ada tuhan (yang lain) ? (Al-Anam : 62)

8. Pengkultusan Kuburan Para Syaikh Mereka

Syaikh mereka AL-Kurdi di dalam kitab Tanwirul Qulub berkata : Sebagian Syaikh mengatakan bahwa Allah mewakilkan dalam kuburan wali seorang malaikat yang memenuhi hajat-hajat dan kadang-kadang wali tersebut keluar dari kuburnya dan ia sendiri yang memenuhi hajatnya. (Tanwirul Qulub 534)

Rasulullah SAW mengetahui bahaya tipu daya ini, lalu beliau memberitahukannya serta memperingatkan darinya sebelum menghadap Allah Yang Maha Tinggi (menjelang wafatnya beliau SAW). Adalah beliau setiap kali sadar dari sakaratul maut bersabda : Semoga Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani yang telah menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid . Aisyah ra. berkata :Jikalau tidak karena hal itu niscaya aku akan menampakkan kuburan beliau, tetapi aku takut bahwa ia akan dijadikan masjid. (HR. Bukhari 2/90 Kitabul Janaiz, Muslim (530), Amad 6/146, dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1/415)

Masjid adalah tempat ibadahnya kaum muslimin, yang disana kita menegakkan shalat, berdoa kepada Allah dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Namun para pengikut sufi melakukan amalan-amalan yang layaknya dilakukan di masjid, mereka lakukan di kuburan-kuburan para syaikh mereka.

Dan dari Jundub bin Abdullah Al-Bajali ra. bahwasanya ia mendengar Nabi SAW bersabda sebelum wafatnya : Ingatlah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan-kuburan nabi-nabi dan orang-orang shaleh mereka sebagai masjid. Ingatlah! Maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai masjid-masjid, karena sesungguhnya aku melarang kelian dari hal itu. (HR. Muslim (532) dalam Kitabul Masajid)

Demikian juga beliau SAW melarang mengapur/mengecat kuburan atau mendirikan bangunan atau duduk diatasnya. (HR. Muslim (970), At-Tirmidzi 2/155 dan ia menshahihkannya, Ahmad dalam Al-Musnad 3/339 dan AL-Baihaqi dalam AL-Musnad 142)

Syaikh mereka AL-Kurdi berkata : Ketika Syaikh Naqsyaband meningga dunia, para pengikutnya membangun suatu kubah yang besar diatas kuburannya dan mereka menjadikannya sebagai masjid yang luas. (Al-Mawahibus Sarmadiyyah 142)

Pengarang kitab Al-Anwirul Qudsiyyah menambahkan terhadap perihal kuburan itu hal berikut ini : Ia masih tetap seperti itu hingga zaman kita ini; Dirinya dimintai pertolongan, debu tanahnya dijadikan celak dan pintu-pintunya dijadikan tempat berlindung. (Al-Anwirul Qudsiyyah 142)

Bantahan :
Berkata Syaikh Abdurrahman Dimasyqiyyah : Demi Allah, tunjukkan kepadaku, manakah perihal mengikuti syariat, mencocoki As-Sunnah dan jalan para sahabat yang mulia seperti yang mereka akui ? Adakah jalan mereka itu mencium kuburan, berguling-guling diatasnya dan meminta pertolongan kepadanya, ataukah bau pemujaan berhala telah berhembus dan bertiup anginnya di kelompok yang para pengakutnya mengaku sangat antusias untuk mengambil ibadah-ibadah mereka dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulul-Nya ?

Begitu pula pegawai dikantor kita yang kita maksud sebelumnya. Disaat dia mengetahui saya adalah orang Aceh dan berdomisili di banda Aceh, yang dia tanyakan terlebih dahulu adalah pernahkah saya pergi ke kuburan Syah Kuala ? Dan ternyata Beliau sudah beberapa kali pergi kesana, entah apa yang dia lakukan.
Sungguh saya pernah melihat kuburan tersebut dan mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Kuburan tersebut berukuran cukup besar dengan diberi batu di kaki dan kepalanya dengan batu yang besar dan tinggi serta dibatu tersebut dibentangkan kain putih diatasnya. Dan dikuburan tersebut dididrikan bangunan sehingga terlindung dari terik panas matahari dan basahan hujan. Inilah ciri-ciri kuburan yang diagungkan yang telah dilarang oleh Rasulullah SAW.

9. Sikap berlebih-lebihan dalam memuji para syaikh tarekat sufi

Yasin As-Sanhuti didaam kitabnya Al-Anwar bercerita tentang Ubaidullah Ahrar : Adapun perihal penyingkapannya terhadap perkara-perkara yang ghaib dan pemberitahuannya tentang hal-hal yang tersembunyi. Maka hal itu tidak terbatas atau terhitung. Demikian juga ia mensifati Yaqub Al-Jarkhi bahwa ia merupakan Pewaris Ilmu Ghaib.

Petakanlah dengan kondisi di Indonesia dari beberapa point diatas, disaat sekarang banyak orang yang memuji, menyanjung dan bahkan siap mati untuk seseorang yang orang tersebut sangat dimuliakan tanpa mempertimbangkannya dengan ilmu syariat yang shahih. Dan lihat pula di negeri kita ini ada tokoh yang dianggap dapat mengetahui suatu perkara yang akan terjadi, dan mudah mengetahui siapa pelaku dari suatu peristiwa, tidak lain hal ini adalah seperti orang yang mengetahui hal-hal yang ghaib. Ambillah pelajaran ini agar kita tida terjebak dalam kesesatan.

10. Membenci Ilmu dan Malas Menuntut Ilmu

Abu Yazid Al-Busthomi berkata seraya mengajak bicara Ahlul Hadits : Kalian telah mengambil ilmu kalian dari orang mati melalui orang mati, sedangkan kami mengambil ilmu kami dari Dzat Yang Maha Hidup Yang tidak akan mati. (Thabaqatusy Syarani 1/5, Al-Futuhatul Makkiyyah 1/365, Talbisu Iblis 344, 322, A-Mawahibus Sarmadiyyah 49 dan Al-Anwarul Qudsiyyah 99)

Al-Qusyairi telah meriwayatkan perkataan Abu Bakar Al-Warraq : Penyakit yang bisa merusak seorang murid ada tiga : menikah, mencatat/menulis hadits dan kitab-kitab. (Ar-Risalatul Qusyairiyyah 92)

Sulaiman Ad-Daroni (ia adalah seorang tokoh besar kaum sufi) berkata : Apabila seseorang mencari/mempelajari hadits atau bepergian untuk mencari rezeki dan menikah, maka berarti ia telah cenderung kepada dunia. (Al-Futuhatul Makkiyyah 1/37)

Mereka tidak butuh lagi dengan As-Sunnah, padahal Allah SWT berfirman :Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lalu bagaimana bisa mentaati Allah dan rasul-Nya jika ia tidak mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan yang tersebut dalam As-Sunnah, apalagi yang tersebut dalam Al-Quran , sebab didalam As-Sunnah terdapat hal-hal yang tidak terdapat dalam Al-Quran.

11. Aliran sufi menyeru untuk zuhud kepada dunia dan meninggalkan sebab-sebab (kerja) serta meninggalkan jihad

Padahal Allah SWT berfirman :
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kenikmatan) di negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu (dari kenikmatan ) di dunia.” (Al-Qashash : 72)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu miliki.” (Al-Anfal : 59)

Hal seperti ini telah dialami oleh Ustadz Abdurrahman Mubarak ketika ikut bergabung dengan mujahidin di Maluku. Disana para mujahidin biasa melakukan ribath, yakni berjaga-jaga di daerah perbatasan untuk mengantisipasi sedini mungkin bila terjadi penyerangan dari pihak Nasrani. Akan tetapi ada sekelompok orang dari kalangan Firqah Tabligh (yang mereka itu adalah kelompok yang berpemahaman sufi) berkata kepada orang-orang yang mengamalkan suatu amalan yang sangat agung seperti yang diberitakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits-hadits yang shahih (yakni ribath) dengan perkataan :Wahai fulan kemarilah bergabung bersama kami di masjid Allah untuk dzikrullah, bertawakkal-lah kepada Alah dari serangan mereka. Perkataan mereka ini tidak lain karena kebodohan mereka terhadap agama ini. Sesungguhnya Allah menyuruh kita untuk ikhtiar (berusaha) kemudian barulah bertawakkal kepada Allah seperti apa yang difirmankan oleh Allah SWT diatas, tidak seperti mereka kalangan firqah tabligh.

12. Sebagian aliran Sufi meyakini adanya wihdatul wujud (menyatunya hamba kepada Allah)

Sehingga tidak berbeda antara pencipta dan makhluk dan semua makhluk bisa menjadi sesembahan. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Arabi (tokoh sufi) yang dikubur di Damsyiq, dia mengatakan :
Hamba ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Wahai siapa yang dibebani (ibadah) ?
Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul.
Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani ?
(Al-Futtuhat al Makiyyah, Ibnu Arabi)

Ini adalah kesyirikan yang Akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Bagaimana seorang manusia mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, yang berikutnya ia mengatakan bahwa ia terbebas dari kewajiban ibadah (karena ia sudah berkedudukan sebagai Tuhan ) ?

13. Sufiyyah berdo’a kepada selain Allah yaitu kepada Nabi, para Wali yang hidup dan yang telah mati.

Mereka mengucapkan : “Yaa Jailani!, Yaa Rifa’i!, dan Yaa Rasulullah!”, sebagai tujuan istighatsah dan memohon pertolongan atau dengan ucapan, “Yaa Rasulullah! Engkaulah tempat bersandar.”

Sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika engkau berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zhalim(musyrik).”(Yunus :106)

Rasulullah SAW telah bersabda :
“Doa itu adalah ibadah.” (HR Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)
Maka do’a itu adalah ibadah seperti halnya shalat yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sekalipun kepada Rasul dan para Nabi. Karena hal itu termasuk perbuatan syirik besar yang dapat menghapus amal baiknya di dunia dan menjadikan pelakunya kekal dineraka (kafir).

Demikian pula yang kita lihat dikitab-kitab rujukan mereka yang mereka memuji para syaikh mereka pada tingkat pujian yang sampai kepada perbuatan syirik. Namun sayangnya syair-syair dalam bahasa arab yang biasa mereka bacakan dari kitab-kitab tersebut tidak dipahami oleh kaum muslimin pada umumnya karena keterbatasan mereka untuk memahami bahasa arab dan jauhnya mereka dari ulama ahlus sunnah, sehingga merekapun tertipu olehnya.

14. Aliran Sufi memberikan kedudukan ihsan kepada Syaikh-Syaikh mereka

Dan meminta kepada pengikut-pengikutnya untuk menggambarkan (membayangkan) syaikh-syaikh mereka itu ketika berdzikir kepada Allah, bahkan dalam shalat mereka sekalipun. Aku (Syaikh Jamil Zainu) pernah melihat seorang dari mereka meletakkan gambar syaikhnya dihadapannya ketika shalat.

Sedangkan Rasulullah SAW bersabda :
“Al-Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihat-Mu.” (HR. Muslim)

15. Aliran Sufi mengatakan bahwa beribadah kepada Allah itu jangan takut neraka-Nya atau mengharap surga-Nya

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyyah (salah seorang tokoh sufi wanita, yang pekerjaannya adalah sebagai biduwanita):
“Ya Allah ! Jika aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu maka tenggelamkanlah aku didalamnya,
Dan jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku darinya.”
(Dan perkataan ini pernah diucapkan oleh presenter pada saat kita melakukan Team Building di Cibubur)

Dan saya juga pernah mendengar pengikut aliran sufi menyanyikan perkataan Abdul Ghani an-Nabilisy :
“Barangsiapa beribadah karena takut neraka Allah, berarti dia penyembah api.
Dan barangsiapa yang beribadah karena menginginkan surga berarti dia penyembah berhala.”

Sementara Allah SWT memuji para Nabi yang mereka itu berdo’a untuk mendapatkan surga Allah dan takut dengan neraka-Nya. Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.” (Al-Ambiyaa’:90)
Maksudnya, mereka sangat berharap dengan surga Allah dan takut pada siksa (neraka) Allah. Allah menerangkan kepada Rasul-Nya :
“Katakanlah : Sesungguhnya aku takut akan azab yang besar (hari kiamat) jika kamu mendurhakai Tuhan-ku.” (Al-An’am : 15)

Rasulullah SAW saja, yang orang paling bertaqwa dibawah kolong langit ini pun dalam keadaan takut akan adzab Allah. Begitupula Beliau SAW sering berdoa diakhir shalatnya : Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari siksa kubur, dan dari siksa jahannam…. (HR. Bukhari & Muslim)

16. Aliran Sufi suka bermain musik yang mereka namakan dengan gambus dalam dzikir

Ini sesungguhnya adalah seruling-seruling syaithan. Sungguh Abu Bakar Ash-Shidiq ra. pernah masuk dirumah Aisyah ra. dan disana ada dua anak perempuan kecil yang sedang bermain rebana, maka berkata Abu Bakar ra. : Ini adalah seruling-seruling syaithan, ini adalah seruling syaithan. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar ra. : Biarkan mereka wahai Abu Bakar! Karena keduanya sedang merayakan hari raya. (HR. Bukhari dengan lafadz yang berbeda)

Darti hadits diatas Rasulullah SAW mengakui perkataan Abu Bakar ra. tanpa membantahnya (menyebut seruling syaithan) tetapi hanya karena pada saat itu sedang hari raya dan pelakunya adalah anak perempuan kecil maka dibolehkan.

Dan tidak ada dalil bahwa para sahabat dan tabiin, mereka itu bermain rebana (gambus) dalam berdzikir. Bahkan ini adaah perbuatan bidah yang dibuat oleh orang-orang sufi yang semua ini telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya:
Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim).

17. Aliran Sufi membolehkan menari, bermain musik dan mengeraskan suara ketika berzikir

Kita dapat menyaksikan pengikut aliran sufi itu berdzikir dengan lafadz Allah saja dan pada akhirnya berdzikir dengan lafadz Hu (Dia) saja.
Padahal Rasulullah SAW bersabda :
“Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan shahih). Jadi, tidak dengan Allah dan Hu saja.

Di dalam berdzikir mereka mengangkat suaranya dengan keras dan bersamaan (koor/berjama’ah),
Padahal berdo’a seperti itu terlarang berdasarkan firman Allah SWT :
“Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf : 55)
Maksudnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam berdo’a dengan terlalu cepat dan dengan suara yang keras. (lihat tafsir Jalalain Imam Suyuthi).

Rasulullah SAW pernah mendengar para shahabat meninggikan suaranya dalam berdzikir, maka Beliau SAW bersabda kepada mereka :
“Wahai manusia ! rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat dan Allah senantiasa bersamamu.” (HR. Muslim)
Allah bersamamu dengan Pendengaran dan Ilmu-Nya dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Demikianlah yang kita lihat dijaman kita ini, dimana orang berdzikir dengan cara koor (bersama-sama) dan mengeraskan suaranya, bahkan menggunakan pengeras suara dicorong-corong speaker masjid.

18. Aliran Sufi mengaku mempunyai ilmu kasyaf (tersingkapnya segala rahasia-pent.) dan mengetahui yang ghaib

Ini adalah kedustaan yang telah dibantah oleh Allah SWT dengan firman-Nya :
Katakanlah : tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi yang mengatahui perkara yang ghaib kecuali Allah. (An-Naml : 65)

Rasulullah SAW bersabda :
Tidak ada yang mengetahui perkara yang ghaib selain Allah. (HR. Thabrani dengan sanad Hasan)

19. Mereka suka menyertai ibadah mereka dengan Siulan dan Tepuk Tangan

Padahal siulan dan bertepuk tangan itu merupakan adat bagi kaum musyrikin dan ibadahnya mereka. Allah SWT berfirman :
Maka shalat mereka (kaum musyrikin) disekitar Baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. (Al-Anfaal : 35)
Al-Mukaa pada ayat ini adalah siulan dan At-Tashdiyah adalah tepuk tangan.


20. Aliran sufi beranggapan bahwa manusia bisa melihat Allah di dunia

Namun Al-Quran mendustakannya lewat lisan Nabi Musa as.:
…Berkata Musa : Ya Tuhanku ! Tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar dapat melihat kepada-Mu. Dia berkat : Engkau tidak akan dapat melihat-Ku (didunia). (Al-Araaf : 143)
Al-Ghazali (seorang tokoh sufi) telah menyebutkan daam kitabnya Ihya Ulumuddin (kitab terkenalnya) dalam bab Hikayatul Muhibbin wa Mukasyafatuhum,Pada suatu hari berkata Abu Turab :Coba sekiranya engkau melihat Abu Yazid, maka berkatalah temannya :Sesungguhnya aku tida butuh itu, sungguh au telah melihat Allah Taala sehingga mencukupi bagiku daripada melihat Abu Yazid. Berkata Abu Turab :Celakalah kamu ! Kamu telah tertipu dengan melihat Allah ! Sekiranya kamu melihat Abu Yazid (Al-Busthomi, tokoh sufi-pent.) sekali saja, itu lebih bermanfaat bagi kamu daripada melihat Allah 70 kali.
Kemudian berkata Al-Ghazali :Maka hendaknya orang mukmin tida mengingkari mukasyafah seoperti ini.
Saya (Syaikh Jamil Zainu) berkata :Bahkan wajib atas kaum mukminin untuk mengingkarinya karena ini adalah kedustaan dan kekufuran, menyelisihi Al-Quran, Hadits dan akal.

21. Aliran Sufi meyakini bahwa mereka itu mengambil ilmu dari Allah SWT secara langsung tanpa perantara Rasulullah SAW

Seperti apa yang dikatakan Ibnu Arabi (seorang tokoh besar sufi yang dikubur di Damaskus) dalam kitabnya Al-Fushush :Maa diantara kita ada khalifah dari Rasulullah yang mengambil hukum dari beliau SAW atau dari ijtihad yangtelah dikatakan oleh beliau SAW, dan diantara kami ada orang yang mengambil hukum langsung dari Allah maka ia adalah khalifah Allah !

Saya (Syaikh Jamil Zainu) katakan :Ini adalah ucapan yang batil, menyelisihi Al-Quran yang mengandung dalil bahwa Allah SWT mengutus Nabi SAW untuk menyampaikan Islam / Risalah kepada ummat manusia. Allah SWT berfirman :
Hai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Allah kepadamu dari Tuhanmu. (Al-Maidah : 67)

Tidak mungkin seseorang mengambil ilmu langsung dari Allah SWT, itu kedustaan yang dibuat-buat.

0 komentar: